theory of description text

THE THEORY OF DESCRIPTIVE TEXT

1. Social Function : To describe a patricular person, place, or thing (mendeskripsikan seseorang, tempat, atau barang).

2. Generic Structure :

Ø Identification : identifies the phenomenon to be describe (identifikasi hal / seorang yang akan dideskripsikan).

Ø Description : describes parts, qualities, characteristic (berisi tentang penjelasan / penggambaran tentang hal atau seseorang dengan menyebutkan beberapa sifatnya).

Ø Timeless Present tense

3. Lexicogrammatical Features :

o Tenses → Present tense Verbal sentences : Nominal sentences

o Focusing on a particular subject

o

Timeless present tense

Identification

There is identification placed on the first paragraph.


THE AMAZING OF TAJ MAHAL IN INDIA


Taj Mahal is regarded as one of the eight wonders of the world. It was built by a Muslim Emperor Shah Jahan in the memory of his dear wife at Agra.
Taj Mahal is a Mausoleum that houses the grave of queen Mumtaz Mahal. The mausoleum is a part of a vast complex comprising of a main gateway, an elaborate garden, a mosque (to the left), a guest house (to the right), and several other palatial buildings. The Taj is at the farthest end of this complex, with the river Jamuna behind it.
The Taj stands on a raised, square platform (186 x 186 feet) with its four corners truncated, forming an unequal octagon. The architectural design uses the interlocking arabesque concept, in which each element stands on its own and perfectly integrates with the main structure. It uses the principles of self-replicating geometry and a symmetry of architectural elements.
Its central dome is fifty-eight feet in diameter and rises to a height of 213 feet. It is flanked by four subsidiary domed chambers. The four graceful, slender minarets are 162.5 feet each. The central domed chamber and four adjoining chambers include many walls and panels of Islamic decoration.
Taj Mahal is built entirely of white marble. Its stunning architectural beauty is beyond adequate description, particularly at dawn and sunset. The Taj seems to glow in the light of the full moon. On a foggy morning, the visitors experience the Taj as if suspended when viewed from across the Jamuna river.

Description



Read more: http://satwikasaktaremidi.blogspot.com

theory of description text

THE THEORY OF DESCRIPTIVE TEXT

1. Social Function : To describe a patricular person, place, or thing (mendeskripsikan seseorang, tempat, atau barang).

2. Generic Structure :

Ø Identification : identifies the phenomenon to be describe (identifikasi hal / seorang yang akan dideskripsikan).

Ø Description : describes parts, qualities, characteristic (berisi tentang penjelasan / penggambaran tentang hal atau seseorang dengan menyebutkan beberapa sifatnya).

Ø Timeless Present tense

3. Lexicogrammatical Features :

o Tenses → Present tense Verbal sentences : Nominal sentences

o Focusing on a particular subject

o

Timeless present tense

Identification

There is identification placed on the first paragraph.


THE AMAZING OF TAJ MAHAL IN INDIA


Taj Mahal is regarded as one of the eight wonders of the world. It was built by a Muslim Emperor Shah Jahan in the memory of his dear wife at Agra.
Taj Mahal is a Mausoleum that houses the grave of queen Mumtaz Mahal. The mausoleum is a part of a vast complex comprising of a main gateway, an elaborate garden, a mosque (to the left), a guest house (to the right), and several other palatial buildings. The Taj is at the farthest end of this complex, with the river Jamuna behind it.
The Taj stands on a raised, square platform (186 x 186 feet) with its four corners truncated, forming an unequal octagon. The architectural design uses the interlocking arabesque concept, in which each element stands on its own and perfectly integrates with the main structure. It uses the principles of self-replicating geometry and a symmetry of architectural elements.
Its central dome is fifty-eight feet in diameter and rises to a height of 213 feet. It is flanked by four subsidiary domed chambers. The four graceful, slender minarets are 162.5 feet each. The central domed chamber and four adjoining chambers include many walls and panels of Islamic decoration.
Taj Mahal is built entirely of white marble. Its stunning architectural beauty is beyond adequate description, particularly at dawn and sunset. The Taj seems to glow in the light of the full moon. On a foggy morning, the visitors experience the Taj as if suspended when viewed from across the Jamuna river.

Description



Read more: http://satwikasaktaremidi.blogspot.com

Jumat, 07 Juni 2013

perkembangan moral


A.       PENGERTIAN PERKEMBANGAN MORAL
Bloom[1] mengemukakan bahwa tujuan akhir dari proses belajar dikelompokkan menjadi tiga sasaran, yaitu penguasaan pengetahuan (kognitif), penguasaan nilai dan sikap (afektif), dan penguasaan psikomotorik. Masa bayi masih belum mempersoalkan masalah moral dan motorik, karena dalam kehidupan bayi belum dikenal hierarki dan suara hati. Perilakunya belum dibimbing oleh norma-norma moral. Pada masa anak-anak telah terjadi perkembangan moral yang relative rendah (terbatas). Anak belum menguasai nilai-nilai abstrak yang berkaitan dengan benar-salah dan baik buruk. Hal ini disebabkan oleh pengaruh perkembangan intelek yang masih terbatas. Anak belum mengetahui manfaat suatu ketentuan atau peraturan dan belum memiliki dorongan untuk mengerti peraturan-peraturan dalam kehidupan.
Semakin tumbuh dan berkembang fisik dan psikisnya, anak mulai dikenalkan terhadap nilai-nilai, ditunjukkan hal-hal yang boleh dan yang tidak boleh, yagn harus dilakukan dan yang dilarang. Menurut Piaget, pada awalnya pengenalan nilai dan perilaku serta tindakan itu masih bersifat “paksaan”, dan anak belum mengetahui maknanya. Akan tetapi sejalan dengan perkembangan inteleknya, berangsur-angsur anak mengikuti berbagai ketentuan yang berlaku di dalam keluarga, dan semakin lama semakin luas sampai dengan ketentuan yang berlaku di dalam masyarakat dan Negara.
“Moral” berasal dari kata Latin, Mores yang berarti tatacara, kebiasaan dan adapt. Perilaku moral adalah perilaku yang sesuai dengan kebiasaan masyarakat tertentu, atau pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok. Perilaku tak bermoral ialah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan social yang disebabkan ketidaksetujuan dengan standar social atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri. Sementara itu perilaku amoral atau nonmoral adalah juga perilaku yang tidak sesuai dengan harapan social, akan tetapi hal itu lebih disebabkan oleh ketidakacuhan terhadap harapan kelompok social daripada pelanggaran sengaja terhadap standar kelompok. Beberapa di antara perilaku menyimpang anak kecil lebih bersifat amoral daripada tak bermoral.

B.       Tahapan-tahapan Perkembangan Moral
Menurut LawrenceKohlberg[2]ada tiga tingkatan perkembangan moral, masing – masing tingkatan terdiri dari dua tahap, sehingga keseluruhannyaada enam tahap ( stadium). Keenam tipe ideal itu diperoleh dengan mengubah tiga tahap Piaget dan Dewey dan menjadikannya tiga “tingkat” yang masing-masing dibagi lagi atas 2 “tahap”. ketiga “tingkat” itu adalah tingkat prakonvensional, konvensional dan pasca-konvensional.
Tingkat yang pertamaprakonvensional sering kali berperilaku “baik” dan tanggap terhadap label-label budaya mengenai baik dan buruk, namun ia menafsirkan semua label ini dari segi fisiknya (hukuman, ganjaran kebaikan) atau dari segi kekuatan fisik mereka yang mengadakan peraturan dan menyebut label tentang yang baik dan yang buruk. Tingkat ini biasanya ada pada anak-anak yang berusia empat hingga sepuluh tahun.
Tingkat kedua atau tingkat konvensional juga dapat digambarkan sebagai tingkat konformis, meskipun istilah itu mungkin terlalu sempit. Pada tingkat ini, anak hanya menuruti harapan keluarga, kelompok atau bangsa, dan dipandangnya sebagai hal yang bernilai dalam dirinya, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata. Individu tidak hanya berupaya menyesuaikan diri dengan tatanan sosialnya, tetapi juga untuk mempertahankan, mendukung dan membenarkan tatanan sosial itu.
Tingkatketiga fpasca-konvensional dicirikan oleh dorongan utama menuju ke prinsip-prinsip moral otonom, mandiri, yang memiliki validitas dan penerapan, terlepas dari otoritas kelompok-kelompok atau pribadi-pribadi yang memegangnya dan terlepas pula dari identifikasi si individu dengan pribadi-pribadi atau kelompok-kelompok tersebut. Pada tingkat ini terdapat usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai dan prinsip moral yang memiliki keabsahan dan dapat diterapkan terlepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang pada prinsip-prinsip itu.
Untuk lebih mudahnya dapat kita lihat seperti pada tebel berikut:
No
Tingkat
Umur
Nama
Karakteristik
1
Tingkat 1
0-9 thn
Prakonvensional
Tahap 1
Moralitas heteronomi (orientasi kepatuhan dan hukuman)
Melekat pada aturan
Tahap 2
Individualisme/
instrumentalisme
(orientasi minat pribadi)
Kepentingan nyata individu. Menghargai kepentingan oranglain
2
Tingkat 2
9-15 thn
Konvensional
Tahap 3
Reksa interpersonal
 (orientasi keserasian interpersonal dan konformitas (sikap anak baik)).
Mengharapkan hidup yang terlihat baik oleh orang lain dan kemudian telah menganggap dirinya baik.
Tahap 4
Sistem sosial dan hati nurani (orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial (moralitas hukum dan aturan))
Memenuhi tugas sosial untuk menjaga sistem sosial yang berlangsung.
3.
Tingkat 3
Diatas 15 thn
Pascakonvensional
Tahap 5
Kontrak sosial
Relatif menjungjung tinggi aturan dalam memihak kepantingan dan kesejahteraan untuk semua.
Tahap 6
Prinsip etika universal
Prinsip etis yang dipilih sendiri, bahkan ketika ia bertentangan dengan hukum

Perkembangan moral menurut Piaget terjadi dalam dua tahapan yang jelas. Tahap pertama disebut “tahap realisme moral” atau “moralitas oleh pembatasan”  dan tahap kedua  disebut “tahap moralitas otonomi” atau “moralitas oleh kerjasama atau hubungan timbal balik”.
Pada tahap pertama, perilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran atau penilaian. Mereka menganggap orang tua dan semua orang dewasa yang berwenang sebagai maha kuasa dan anak mengikuti peraturan yang diberikan oleh mereka tanpa mempertanyakan kebenarannya. 
Pada tahap kedua, anaka menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya. Tahap ini biasanya dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan berlanjut hingga usia 12 tahun atau lebuh. Anak mulai mempertimbangkan keadaan tertentu yang berkaitan dengan suatu pelanggaran moral.

C.       Faktor- Faktor yang mempengaruhi Perkembangan Moral
Adapun faktor-faktor  yang mempengaruhi perkembangan Moral adalah sebagai berikut:
1.      Kurangnya perhatian dan pendidikan agama oleh keluarga
Orang tua adalah tokoh percontohan oleh anak-anak termasuk didalam aspek kehidupan sehari-hari tetapi didalam soal keagamaan hal itu seakan-akan terabaikan. Sehingga akan lahir generasi baru yang bertindak tidak sesuai ajaran agama dan bersikap materialistik.

2.      Pengaruh lingkungan yang tidak baik
Kebanyakan remaja yang tinggal di kota besar menjalankan kehidupan yang individualistik dan materialistik. Sehingga kadang kala didalam mengejar kemewahan tersebut mereka sanggup berbuat apa saja tanpa menghiraukan hal itu bertentangan dengan agama atau tidak, baik atau buruk.
3.      Tekanan psikologi yang dialami
Beberapa remaja mengalami tekanan psikologi ketika di rumah diakibarkan adanya perceraian atau pertengkaran orang tua yang menyebabkan si anak tidak betah di rumah dan menyebabkan dia mencari pelampiasan.
4.      Gagal dalam studi/pendidikan
Remaja yang gagal dalam pendidikan atau tidak mendapat pendidikan, mempunyai waktu senggang yang banyak, jika waktu itu tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya, bisa menjadi hal yang buruk ketika dia berkenalan dengan hal-hal yang tidak baik untuk mengisi kekosongan waktunya.
5.      Peranan Media Massa
Remaja adalah kelompok atau golongan yang mudah dipengaruhi  karena remaja sedang mencari identitas diri sehingga mereka dengan mudah untuk meniru atau mencontoh apa yang dia lihat, seperti pada film atau berita yang sifatnya kekerasan, dan sebagainya
6.      Perkembangan teknologi modern
Dengan perkembangan teknologi modern saat ini seperti mengakses informasi dengan cepat, mudah dan tanpa batas juga memudahkan remaja untuk mendapatkan hiburan yang tidak sesuai dengan mereka.
D.      Upaya Optimalisasi Perkembangan Moral
Hurlock mengemukakan ada empat pokok utama yang perlu dipelajari oleh anak dalam mengoptimalkan perkembangan moralnya, yaitu mempelajari apa yang diharapkan kelompok social dari anggotanya sebagaimana dicantumkan dalam hokum, kebiasaan, dan peraturan; mengembangkan hati nurani; belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila perilaku individu tidak sesuai dengan harapan kelompok; dan mempunyai kesempatan berinteraksi social untuk belajar apa saja yang diharapkan anggota kelompok.
Pokok pertama yang penting dalam pelajaran menjadi pribadi yang bermoral ialah belajar apa yang diharapkan kelompok dari anggotanya. Harapan tersebut diperinci dalam bentuk hokum, kebiasaan dan peraturan. Tingakan tertentu dianggap “benar” atau “salah” karena tindakan itu menunjang, atau dianggap tidak menunjang, atau menghalangi kesejahteraan anggota kelompok. Kebiasaan yang paling penting dibakukan menjadi peraturan hokum dengan hukuman tertentu bagi yagn melanggarnya. Yang lainnya, bertahan sebagai kebiasaan tanpa hukuman tertentu yang melanggarnya.
Pokok kedua ialah pengembangan hati nurani sebagai kendali internal bagi perilaku individu. Seorang anak tidak saja harus belajar tentang apa yang benar an yang salah, tetapi juga harus menggunakan hati nurani sebagai pengendali perilaku. Hati nurani merupakan tanggapan terkondisikan terhadap kecemasan mengenai beberapa situasi dan tindakan tertentu, yang telah dikembangkan dengan mengasosiasikan tindakan agresif dengan hokum.
Pokok ketiga, adalah pengembangan perasaan bersalah dan rasa malu. Setelah anak mengembangkan hati nurani, hati nurani mereka dibawa dan digunakan sebagai pedoman perilaku. Bila perilaku anak tidak memenuhi standar yang ditetapkan hati nurani, anak merasa bersalah, malu atau kedua-duanya.
Pokok keempat ialah mempunyai kesempatan melakukan interaksi dengan anggota kelompok social. Interaksi social memegang peranan penting dalam perkembangan moral. Tanpa interaksi dengan orang lain, anak tidak akan mengetahui perilaku yang disejutui secara social, maupun memiliki sumber motivasi yang mendorongnya untuk tidak berbuat sesuka hati.


[1]Hurlock, Elizabeth B. 1990. Perkembangan Anak, Jilid 2. Alih bahasa dr. Med. Meitasari Tjandrasa. Jakarta: Erlangga.

[2]Susanto dan Ny. B. Agung Hartono. 1990. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Departemen Kebudayaan, dan Rineka Cipta.

Sejarah IAID

Institut Agama Islam Darussalam (IAID) adalah Perguruan Tinggi Agama Islam yang menggabungkan pendidikan akademik dengan pendidikan kepesantrenan, yaitu Pondok Pesantren Darussalam. Pendidikan Tinggi Islam yang lahir pada tanggal 1 Juni 1970 ini sejak lama dipercaya pemerintah dan masyarakat untuk mendidik calon-calon sarjana-ulama-cendekia, yang memiliki visi ke-Islam-an, keilmuan, kebangsaan dan kemasyarakatan.

Kepercyaan itu dibuktikan dengan jumlah ribuan alumni yang tersebar hampir di seluruh pelosok nusantara dalam berbagai peran dan kedudukan.
Pada awal berdirinya, IAID hanya memiliki satu fakultas, yaitu Fakultas Syari’ah. Kemudian melalui usaha keras, saat ini telah ada tiga fakultas dan satu program, yaitu Fakultas Syari’ah (Program Studi Ahwal Al-Syakhshiyyah), Fakultas Tarbiyah (Program Studi Pendidikan Agama Islam dan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah), Fakultas Dakwah (Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam), dan Program Pascasarjana/S2 (Program Studi Pendidikan Islam.
Fakultas Ushuluddin Jurusan Dakwah pernah didirikan, tetapi kemudian diubah menjadi Fakultas Dakwah Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam sesuai dengan tuntutan dan perkembangan yang ada. Program Diploma PGSD/PGMI juga pernah ada tetapi kemudian ditingkatkan statusnya dari Program Diploma menjadi Program Strata Satu.

Selasa, 04 Juni 2013

KONSEP DASAR STRATEGI PEMBELAJARAN



A.      Pengertian Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir
SPPKB merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kepada kemampuan berfikir siswa. Joyce dan Woli menempatkan model pembelajaran ini ke dalam bagian model pembelajaran kognitif.
Dalam SPPKB siswa dibimbing untuk menemukan sendiri konsep yang harus dikuasai melalui proses dialogis yang terus menerus dengan memanfaatkan kemampuan siswa. Model strategi pemabelajaran peningkatan kemampuan berpikir (SPPKB) adalah model pembelajaran yang bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui telaahan fakta-fakta atau pengalamananak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajarkan.
Pengertian di atas mengandung beberapa hal:
1.     SPPKB adalah model pembelajaran yang bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir, artinyasiswa tidak hanya menguasai materi, akan tetapi bagaimana siswa dapat mengembangkan gagasan-gagasan dan ide-ide melalui kemampuan berbahasa secara verbal. Hal ini didasarkan kepada asumsi bahwa kemampuan berbicara secara verbal merupakan salah satu kemampuan berpikir
2.     Telaahan fakta-fakta sosial atau pengalaman sosial merupakan dasar pengembangan kemampuanberpikir, artinya gagasan dan ide-ide didasarkan kepada pengalaman sosial anak dalam kehidupan sehari-hari dan atau berdasarkan kepada kemampuan anak untuk mendeskripsikan hasil pengamatan merekaterhadap berbagai fakta dan data yang mereka peroleh dalam kehidupan sehari-hari.
3.     Sasaran akhir SPPKB adalah kemampuan anak untuk memecahkan masalah-masalah sosial sesuaidengan tarap perkembangan anak.

B.       Landasan Filosofis dan Psikologis SPPKB
1.      Latar Belakang Filosofis
Pembelajaran adalah proses interaksi, baik antara manusia dengan manusia maupun manusia denganlingkungan. Interaksi ini ditujukan untuk perkembangan kognitif, afektif dan psikomotor. Pengembanganafektif erat kaitannya dengan meningkatkan aspek pengetahuan, baik secara kuantitatif maupun secarakualitatif. Timbul pertanyaan apakah pengetahuan itu ? Bagaimana memperolehnya ?
a.       Aliran Rasionalisme mangatakan bahwa pengetahuan menunjuk kepada objek dan kebenaran itumerupakan akibat dari deduksi logis.
b.      Aliran Empirisme mengatakan bahwa pengetahuan berdasarkan kepada pengalaman dalam memahamiobjek. Aliran ini memandang bahwa semua kenyataan itu diketahui melalui indera dan kriteria kebenaran ituadalah kesesuaian dengan pengalaman.c. Konstruktivisme, mengatakan bahwa pengetahuan itu bukan hanya terbentuk dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek dalam menangkap setiap objek yang diamati.
Dengan demikian pengetahuan terbentuk oleh 2 faktor penting yaitu objek yang menjadi bahan pengamatan dankemampuan subjek untuk menginterpretasi objek tersebut. Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan diperoleh bukan sebagai hasil tranfer dariorang lain, tetapi pengetahuan diperoleh melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena dan lingkunganyang ada. Oleh karena itu model pembelajaran berpikir menakankan kepada aktivitas siswa untuk mencaripemahaman akan objek, menganalisis dan mengkonstruksinya sehingga terbentuk pengetahuan barudalam individu.
2.      Latar belakang psikologis
Belajar merupakan peristiwa mental, bukan peristiwa behavioral. Sebagai gerakan mental perilaku manusiatidak hanya gerakan fisik, tetapi yang lebih penting adalah adanya faktor pendorong yang menggerakan fisikitu, yaitu kebutuhan.Dalam prespektif psikologni kognitif, belajar adalah proses aktif individu dalam membangun pengetahuandan pencapaian tujuan. Proses belajar tidak tergantung kepada pengaruh dari luar, tetapi sangat tergantung kepada individu yang belajar. Dengan demikian tingkah laku manusia merupakan ekspresi yang dapatdiamati sebagai akibat dari eksistensi internal yang pada hakikatnya bersifat pribadi.
C.      Karakteristik SPPKB
SPPKB menekankan kepada keterlibatan siswa secara penuh dalam belajar. Hal ini sesuai dengan hakikat SPPKB yang tidak mengharapkan siswa sebagai obyek belajar yang hanya duduk mendengarkan penjelasan guru, kemudian mencatat yang berhubungan dengan penguasaan materi pelajaran dan mencatat untuk dihafalkan.
Sebagai strategi pembelajaran yang diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, SPPKB pada dasarnya memiliki tiga karakteristik utama, yaitu sebagai berikut :
1.        Proses pembelajaran melalui SPPKB menekankan kepada proses kekuatan mental siswa secara maksimal. SPPKB bukan model pembelajaran yang membiarkan siswa untuk pasip atau sekedar mendengar dan mencatat apa yang disampaikan oleh guru, tetapi menginginkan agar siswa  aktif dalam aktivitas  proses berpikir. Setiap kegiatan belajar yang berlangsung disebabkan dorongan mental yang diatur oleh otak. Karena Pembelajaran disini adalah peristiwa mental bukan peristiwa behavioral yang lebih menekankan aktivitas fisik.
Berkaitan dengan karakteristik tersebut, maka dalam proses implementasi SPPKB perlu diperhatikan hal-hal :
              a.          Jika belajar tergantung pada bagaimana informasi diproses secara mental, maka proses kognitif siswa harus menjadi kepedulian pertama para guru.
             b.          Guru harus mempertimbangkan tingkat perkembangan kognitif siswa ketika merencanakan topik yang harus dipelajari serta metode apa yang digunakan.
              c.          Siswa harus mengorganisasi yang mereka pelajari. Dalam hal ini guru harus membantu agar siswa belajar untuk melihat hubungan antarbagian yang dipelajari.
             d.          Guru harus dapat membantu siswa belajar dengan memperlihatkan bagaimana gagasan baru berhubungan dengan pengetahuan yang telah mereka miliki.
              e.          Siswa harus secara aktif merespons apa yang mereka pelajari.
2.      SPPKB dilaksanakan  dalam situasi dialogis dan proses tanya jawab secara terus- menerus. Proses pembelajaran melalui dialog dan tanya jawab itu diarahkan untuk mengembangkan daya pikir siswa akan masalah yang diajukan, sehingga siswa menjadi memiliki pandangan tersendiri atas solusi atau cara pemecahan masalah yang telah diberikan, yang pada gilirannya kemampuan berpikir itu dapat membantu siswa untuk memperoleh pengetahuan yang mereka konstruks sendiri.
3.      SPPKB menyandarkan akan dua masalah pokok, yaitu sisi proses dan hasil belajar. Proses belajar diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir, sedangkan sisi hasil belajar diarahkan untuk mengkonstruksi pengetahuan atau penguasaan materi pembelajaran baru.
D.      Perbedaan SPPKB dengan Pembelajaran Konvensional
1.         Strategi Pembelajaran Konvensional.
a.    Peserta didik sebagai objek belajar.
b.     Pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak.
c.     Perilaku dibangun atas proses kebiasaan.
d.    Kemampuan didasarkan atas latihan-latihan.
e.     Tujuan akhir adalah penguasaan materi pembelajaran.
f.      Perilaku dilakukan karena faktor pendorong dari luar.
g.     Pengetahuan bersifat absolut dan final, karena pengetahuan dikonstruksi oleh orang lain.
h.    Keberhasilan siswa diukur hanya melalui test
2.         Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB)
a.    Peserta didik sebagai subjek belajar.
b.     Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata (pengalaman siswa).
c.     Perilaku dibangun atas kesadaran diri.
d.    Kemampuan didasarkan atas penggalian pengalaman.
e.     Tujuan akhir adalah kemampuan berpikir dengan menghubungkan pengalaman dengan kenyataan.
f.      Perilaku dilakukan karena faktor pendorong dari dalam.
g.     Pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai pengalaman yang dialaminya
h. Keberhasilan siswa diukur dari proses dan hasil belajar.











A.     KESIMPULAN
Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB) merupakan strategi pembelajaran yang bertumpu kepada pengembangan kemampuan berpikir siswa melalui telaah fakta – fakta atau pengalaman anak sebagai bahan untuk memecahkan masalah yang diajukan. SPPKB menekankan kepada keterlibatan siswa secara penuh dalam belajar. Hal ini sesuai dengan hakikat SPPKB yang tidak mengharapkan siswa sebagai obyek belajar yang hanya duduk mendengarkan penjelasan guru, kemudian mencatat yang berhubungan dengan penguasaan materi pelajaran dan mencatat untuk dihafalkan.
 SPPKB merupakan strategi pembelajaran yang mana tujuan akhir dari pembelajarannya adalah siswa terlatih mengungkapkan ide-ide untuk memecahkan permasalahan yang berhubungan dengan materi yang diajarkan. Tidak hanya memecahkan permasalahan, siswa juga terlatih dalam berpikir kritis dan kreatif.